Kuba dan AS Kembali Gelar Pertemuan Diplomatik di Havana

By Meisarah Marsa, S.Sos - April 14, 2015



Fakta :      
                    Pada Senin 16 Maret 2015, AS dan Kuba mengadakan pertemuan diplomatik guna membahas hubungan bilateral antar kedua negara   yang sempat terputus sejak 1961 silam. Pertemuan diplomatik tersebut merupakan kelanjutan dari dua pertemuan sebelumnya yang diadakan di Havana pada Januari 2015, dan di Washington bulan lalu. Dalam sesi wawancara eksklusif dengan Reuters, Senin (2/3), Obama mengungkapkan bahwa AS akan membuka kedutaan besar di Kuba sebelum gelaran Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT), 10-11 April mendatang di Panama. Sebagai kompensasi, pemerintah Castro menginginkan agar Departemen Luar Negeri AS menghapus negaranya dari daftar negara-negara sponsor yang dituding menjadi penyokong dana terorisme. Disamping itu AS juga harus menyediakan bank-bank yang bisa diakses oleh pemerintah Kuba terkait pengurusan perdagangan.
Analisa :
                    Kuba merupakan negara dengan sistem pemerintahan yang komunis berbeda dengan AS yang menggunakan sistem liberal dan demokrasi. Perbedaan sistem pemerintahan keduanya turut mempengaruhi politik luar negeri masing-masing. Jika 50 tahun terakhir, hubungan keduanya memanas, namun saat ini AS mulai menyadari potensi Kuba yang cukup besar begitupun dengan Kuba yang memiliki kepentingan tersendiri dengan AS.
                    Melihat pola politik luar negeri kedua negara tidak lepas dari kepentingan nasional (national interest) AS maupun Kuba. Di mana kepentingan nasional AS di Kuba yaitu kepentingan ekonomi, SDA, pembebasan tahanan AS, dan pengukuhan hegemon AS di kawasan Amerika. Sedangkan Kuba memiliki kepentingan nasional yaitu penghapusan embargo, penghapusan backlist Kuba sebagai penyuplai dana teroris, dan penyediaan bank-bank yang bisa diakses pemerintah Kuba terkait pengurusan perdagangan..
                    Sedangkan cara diplomasi yang dilakukan oleh AS dan Kuba saat ini adalah baru sebatas perundingan mengenai normalisasi hubungan diplomatik. Menggunakan teori neo liberalisme institusional, terdapat beberapa hal yang perlu untuk dibahas.
1.      Struktur yang anarki tidak selalu berakhir dengan konflik
                    Selama lebih kurang 50 tahun terakhir, hubungan AS dan Kuba diwarnai dengan konflik dan ketegangan yang mengakibatkan kerugian di negara Kuba. Untuk mencegh kerugian yang berlarut-larut, pemerintah Kuba akhirnya berupaya untuk mengganti sistem ekonominya menjadi ekonomi terbuka seperti China. Rencana ini disambut baik oleh AS. Melihat kemajuan di Kuba dan krisis di Venezuela mendorong AS untuk mengambil sikap normalisasi hubungan dengan Kuba melalui perundingan. Dengan didukung oleh kepentingan AS yang telah disebutkan sebelumnya, akhirnya Obama menyuarakan akan membuka keduataan besar di Kuba sebelum gelaran Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT), 10-11 April mendatang. Berdasarkan teori neo liberal dapat disimpulkan bahwa Kuba selayaknya membuka hubungan diplomatik dengan AS bahkan kerjasama nantinya untuk dapat mencegah konflik yang berkelanjutan.   
2.      Menitikberatkan peluang kerjasama internasional yang absolute gain dan menghasilkan interdependensi.
                    Meskipun baru dilaksanakan 3 kali pertemuan, namun tidak menutup kemungkinan bahwa AS akan mengembangkan invetasi dan bisnis di Kuba nantinya. Hal ini akan menjadi angin segara bagi Kuba. Karena secara tidak langsung, Kuba akan terhindar dari embargo dan sanksi ekonomi AS. Selain itu, Kuba dapat mengajukan kesepakatan bersyarat yang tidak hanya menguntungkan AS tapi juga dapat menguntungkan Kuba seperti UU tentang investasi yang telah disiapkan oleh Kuba.  Kuba membutuhkan modal dan teknologi AS, sebaliknya AS membutuhkan pasokan pertanian dan pangan dari Kuba. Sehingga, AS dan Kuba akan terikat dalam kerjasama yang interdependensi (saling ketergantungan) yang dapat mendatangkan insentif bagi Kuba berupa modal dan teknologi dan bagi AS berupa pasokan pertanian dan pangan.

                    Dari pembahasan tersebut, saya menyarankan agar Kuba dapat menerima upaya normalisasi diplomatik AS. Karena nantinya, normalisasi akan mengarah pada kerjasama dan interdependensi dengan melihat pada potensi (advantage) yang dimiliki oleh AS maupun Kuba. Dan upaya tersebut tentunya akan meminimalisir konflik antara Kuba dan AS.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments