Kenali Garut Lewat Catatan Sejarah

By Meisarah Marsa, S.Sos - Oktober 22, 2019


https://www.garutkab.go.id

Garut, merupakan sebuah Kabupaten yang ada di wilayah Jawa Barat, berjarak 64 km di sebelah tenggara Bandung. Dewasa ini, banyak para wisatawan lokal maupun mancanegara yang tertarik berwisata ke tempat yang satu ini. Garut memiliki destinasi wisata yang eksotis, kuliner enak yang menggigit lidah dengan cita rasa yang khas serta corak budaya yang klasik. Eits, daya tarik Garut nggak hanya dari hal ini saja loh! Siapa sangka daerah yang terkenal dengan khas kuliner dodolnya ini ternyata memiliki sejarah yang cukup unik. Mulai dari asal muasal namanya hingga pernah dijuluki sebagai Kota Intan, menjadikan Garut memiliki cirikhas tersendiri.

Asal muasal sejarah Garut sendiri bermula dari pencarian wilayah baru untuk dijadikan ibukota oleh Bupati Limbangan. Sejarah mencatat, pada tanggal 2 Maret 1811, salah seorang petinggi Belanda bernama Gubernur HW Daendels membubarkan Kabupaten Limbangan lantaran berkurangnya produksi kopi di wilayah tersebut. Kemudian, pada tanggal 16 Februari 1813 status Limbangan sebagai Kabupaten kembali dipulihkan oleh Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles setelah terjadi peralihan kekuasaan Hinda Belanda ke tangan Inggris. Ia lalu, mengangkat Adipati  Adiwidjaja sebagai Bupati Limbangan dan menjadikan wilayah Suci sebagai Ibukota Limbangan.

Semasa jabatannya, Adiwidjaja mencoba mencari lokasi yang tepat untuk dijadikan Ibukota, karena menurutnya wilayah Suci tidak subur, terlalu sempit, dan tidak memenuhi syarat untuk dijadikan Ibukota. Adipati  Adiwidjaja pun membentuk tim khusus untuk mencari lokasi Ibukota baru. Usai pencarian, akhirnya panitia yang terbentuk memutuskan untuk menelusuri sebuah wilayah yang terletak 5 km di bagian Barat Suci. Tempat tersebut dianggap layak karena merupakan daerah yang subur dengan tersedianya sumber mata air dan sungai yang mengalir jernih. Pemandangannya terlihat semakin eksotis dengan dibalut gunung-gunung yang mengelilinginya.

Related image
https://sportourism.id/

Saat sedang menelusuri sumber mata air, salah seorang tim terluka karena tergores belukar berduri atau yang dikenal dengan istilah “marantha”. Dalam ekspedisi tersebut, seorang Eropa yang ikut terlibat ekspedisi menanyakan kepada salah satu tim kenapa tangannya terluka. Lalu, orang yang terluka tersebut menjawab dalam bahasa Sunda dengan “kakarut”, alias tergores belukar berduri. Karena tidak fasih berbicara bahasa Sunda, orang Eropa tadi menyebut “kakarut” dengan “gagarut”. Sejak itulah, tanaman belukar berduri yang ditemukan tim ekspedisi dinamai “Ki Garut” dan sumber mata air yang ditemukan diberi nama “Cigarut”, lalu dari nama “Cigarut”, tempat tersebut kemudian diberi nama “Garut”.   

Pada pertengahan September 1813, Adipati  Adiwidjaja selaku Bupati Limbangan meresmikan Garut sebagai Ibukota Limbangan dengan peletakan batu pertama pembangunan Ibukota. Beberapa pembangunan diantaranya yaitu, pembangunan masjid, alun-alun, kantor, tempat tinggal, pendopo,  jembatan Leuwidaun, dan babancong atau yang dikenal dengan tempat berpidato untuk Bupati. Setelah pembangunan selesai, nama Kabupaten Limbangan kemudian berganti menjadi Kabupaten Garut dengan Ibukota Garut pada tanggal 1 Juli 1913. Lalu pada tanggal 14 Agustus tahun 1925, Garut memiliki Bupati Pertamanya secara resmi setelah pergantian nama Kabupaten Limbangan menjadi Kabupaten Garut. Bupati pertamanya yaitu R.A.A Soeriya Kartalegawa setelah disahkannya Kabupaten Garut menjadi daerah otonom oleh Gubernur Jenderal.

Nggak nyangka bukan, kalau ternyata nama Garut sendiri berasal dari ketidaksengajaan yang terjadi selama ekspedisi pencarian Ibukota baru berlangsung. Berawal dari kesalahan penyebutan nama, kini Garut sudah ditetapkan sebagai nama sebuah Kabupaten dan Ibukota. Unik ya? Meski demikian, Garut kini sudah sangat dikenal luas loh.

Tapi tunggu dulu, masih ada keunikan lain yang perlu kamu ketahui tentang Garut nih. Percaya nggak, kalau ternyata Garut pernah mendapat julukan “Swiss Van Java”?

Image result for garut swiss van java
https://www.kompasiana.com/malasyafailah/

Julukan “Swiss Van Java” lahir dari pemandangan Kabupaten Garut yang sangat eksotis. Pesona alamnya yang menakjubkan dan hawanya yang sejuk serta udara bersih layaknya Kota Swiss telah sukses menarik minat para wisatawan untuk berkunjung. Ketertarikan tersebut dikarenakan ada kemiripan bentang alam antara Swiss dengan Garut.

Jika di Swiss ada gunung Alpen yang menjadi favorit pendaki, di Garut juga ada gunung yang cukup terkenal yaitu Gunung Gede atau juga dikenal dengan Gunung Papandayan. Meski tidak bersalju layaknya Gunung Alpen, namun gunung ini tidak kalah sejuk dan segarnya. Di samping Papandayan, Garut juga memiliki dua gunung yang semakin menambah eksotismenya yaitu Gunung Guntur dan Gunung Cikuray.

Tidak cukup sampai di situ, Garut memiliki danau Situ Bagendit yang menjadi tandingan danau Interlaken, Swiss. Selain danau, Garut juga kaya akan sumber air panas yang salah satunya terletak di daerah Cipanas. Di samping itu, Garut juga memiliki sungai yang bisa dijadikan sebagai destinasi uji adrenalin yaitu Sungai Cikadang.

Sedangkan dari segi kuliner, Swiss terkenal denan coklatnya sedangkan Garut terkenal dengan dodolnya. Bagaimana? Mirip bukan? Sehingga tidak heran, pada era 20-an, Garut dijuluki Swiss Van Java alias Swiss dari pulau Jawa. Garut menjadi tujuan wisata yang terkenal di Indonesia layaknya Swiss yang menjadi tujuan wisata alam terkenal di Eropa. Bahkan, dengan destinasi wisata yang sangat potensial, seorang Gubernur Belanda bernama Holke Van Garut kemudian mendirikan dua buah hotel yaitu Hotel Belvedere dan Hotel Van Hengel.

Promosi Garut pada waktu itu sangat gencar, bahkan ketenarannya pernah dimuat di Encyclopedie van Nederlands-Indie (Ensiklopedia Hindia-Belanda) terbitan tahun 1917. Saking populernya, banyak hotel dan tempat penginapan didirikan, serta foto-foto destinasi wisata Garut dimuat dalam buku petunjuk traveling untuk turis mancanegara, tempat-tempat wisata dibangun dan dikelola dengan baik.

Saking populernya, selebriti dunia bahkan pernah mengunjungi Garut loh! Charlie Chaplin, seorang artis Hollywood yang sangat terkenal pernah berkunjung ke Garut pada tahun 1928. Bahkan, Ratu Belanda dan Perdana Menteri Perancis juga pernah dikabarkan menginap di Hotel Grand Ngamplang, menikmati keindahan Garut. Hadirnya kunjungan dari orang-orang penting saat itu menjadikan Garut mendapat julukan Garoet Mooi, yang berarti Garut Cantik.


Meskipun memiliki sisi cagar alam yang menakjubkan, Garut ternyata tidak luput dari peristiwa-peristiwa penting dalam mempertahankan kedaulatan. Beberapa pertempuran pernah terjadi di daerah indah ini. Pertempuran tersebut antara lain :
  • Pertempuran Cimareme, terjadi pada tanggal 19 Juli 1919 antara rakyat Indonesia dengan Belanda. Akibat tindakan semena-mena Belanda terhadap kebijakan peraturan pembelian padi, rakyat Indonesia yang waktu itu dipimpin oleh Haji Hasan berupaya memerangi tindakan Belanda tersebut dan meletuslah perang.
  • Pertempuran Kubang di Banyuresmi untuk menghadang pasukan Jepang yang akan memasuki Garut pada 12 Oktober 1945.
  • Peristiwa Leuwigoong yang terjadi dalam upaya menghadang tentara Belanda yang sedang melakukan perjalanan hendak memasuki wilayah Garut menggunakan kendaraan truk dari arah Leles-Cibatu, terjadi pada tanggal 3 September 1947.
  • Munculnya serangan dari 3000 pasukan DI/TII pimpinan Sekarmadji Maridjan Kartosoewiryo pada tanggal 17 April 1952 yang terjadi di Desa Cipari dan Pesantren Cipari, Wanaraja.

Pasca peperangan yang berlangsung selama mempertahankan kedaulatan bumi Garut, sempat membuat kondisi Garut porak poranda. Hal ini ditunjukkan dengan dihancurkannya hotel-hotel yang dibangun pada masa kolonial yang dilakukan pada masa pergerakan kemerdekaan, tepatnya di tahun 1942. 

Related image
https://twitter.com/infogarut/

Namun, pasca kemerdekaan mulai digalakkan kembali pembangunan yang menunjang pariwisata Garut. Perbaikan terus digencarkan, hingga tepatnya pada tanggal 8 Desember 1960, Garut kemudian mendapat julukan Kota INTAN dari Presiden Soekarno yang pada waktu itu berkunjung ke Garut. Julukan tersebut diberikan lantaran Kota Garut dinilai sebagai kota yang Indah, Tertib, Aman, dan Nyaman yang kemudian disingkat menjadi INTAN. Garut juga dihargai sebagai salah satu kota terbersih di Indonesia pada waktu itu. Luar biasa bukan?   

Salah satu quotes Presiden Soekarno yang melegenda adalah Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah! Berkaca pada sejarah Garut, mulai dari berdirinya hingga berkembang lebih bagus dan asri seperti saat ini tidak luput dari pengorbanan para pejuang dan pahlawan yang telah mempertahankan dan menjaga keelokan wilayah Swiss Van Java, Kota Intan, Garut.
Siapa saja pahlawan yang telah berkorban tersebut?

    Bupati Pertama Kabupaten Limbangan yang Kini Menjadi Kabupaten Garut
    http://www.jelajahgarut.com
  1. Adipati  Adiwidjaja, sosok pahlawan yang ‘menciptakan’ Garut. Atas inisiasinya, ia akhirnya berhasil menemukan Garut lewat kebijakan ekspedisi pencarian Ibu kota baru yang ia rencanakan. Oleh karenanya, masyarakat Garut mengabadikan namanya menjadi nama museum di Garut. 
  2. Tokoh perempuan intelektual pertama di Indonesia
    http://www.jelajahgarut.com
  3. Raden Ayu Lasminingrat, seorang pahlawan wanita yang memperjuangkan pendidikan kaum perempuan. Pada masanya, ia berhasil membangun sekolah untuk perempuan yang diberi nama Sakola Kautamaan Istri pada tahun 1907. Sekolahnya berkembang pesat hingga memiliki beberapa cabang yang tersebar di beberapa tempat, yaitu di kota Wetan Garut, Bayongbong, dan Cikajang. Lasminingrat  dijuluki sebagai tokoh perempuan intelektual pertama di Indonesia, kecerdasannya digambarkan lewat karya-karya yang ia tulis. Jika masyarakat pada umumnya banyak yang buta huruf, sedangkan Lasminingrat mampu menciptakan berbagai buku berbahasa sunda maupun terjemahan dari karya asing. Tulisannya bahkan dicetak ulang hingga beberapa kali. Sehingganya, ia dipandang sebagai tokoh literasi nasional. Ia bahkan menginspirasi R.A Kartini lewat gagasan dan ide-idenya dalam memperjuangkan pendidikan kaum perempuan.  
  4. Tokoh Ulama, intelektual, dan juga Pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan RI pasca Proklamasi
    http://www.jelajahgarut.com
  5. Prof. KH. Anwar Musaddad, merupakan seorang pejuang kemerdekaan yang pernah memimpin pasukan Hizbullah demi melawan agresi Belanda yang ingin merebut kedaulatan Indonesia. Perlawanannya menghadapi agresi Belanda berakhir dengan ditangkapnya Anwar Musaddad dan menjadi tawanan Belanda pada tahun 1948. Namun, ia akhirnya berhasil dibebaskan setelah pengukuhan dan pengakuan kedaulatan oleh Indonesia pada tahun 1950. Anwar Musaddad juga dikenal sebagai cendikiawan. 3 tahun setelah kebebasannya, ia kemudian membangun Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) di Yogyakarta dan kemudian merintis IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Di samping kontribusi besarnya dibidang pendidikan, ia pernah dikenal sebagai penerjemaah utama Presiden Soekarno karena menguasai banyak bahasa.
  6. Tokoh Yang Melawan Penjajah dan Mempertahankan Kemerdekaan Dari Pesantren
    http://www.jelajahgarut.com
  7. KH. Yusuf Tauzirie, tokoh yang tidak kalah penting akan pengorbanannya membela rakyat. KH. Yusuf Tauzirie memutuskan untuk membentuk Laskar Darussalam setelah menolak ajakan Kartosuwiryo untuk bergabung dalam NII (Negara Islam Indonesia). Laskar Darussalam yang ia dirikan pada akhirnya bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang saat ini dikenal dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sebagai pelopor Laskar Darussalam, Yusuf Tauzirie telah berjasa besar dalam membantu melindungi pasukan Siliwangi dari serangan DI/TII.     


Perjuangan para tokoh dan kontribusi mereka dalam membesarkan nama Garut patut mendapat penghargaan setinggi-tingginya. Masyarakat Garut layak berbangga dengan kehadiran tokoh-tokoh bangsa yang terlahir dari tanah Garut. Tidak hanya itu, jejak sejarah Kota Garut juga menjadi aspek penting yang wajib diketahui. Karena dengan mengenal sejarah Garut, kita bisa termotivasi untuk lebih mengapresiasi dan semakin mengembangkan wisata, budaya, kuliner, hingga dikenal tidak hanya di kancah local tapi juga internasional.

***

Sumber :





  • Share:

You Might Also Like

0 comments