Review Makalah Professor Morgenthau : Tujuan Ilmu Politik

By Meisarah Marsa, S.Sos - April 04, 2013


Review Makalah Professor Morgenthau : Tujuan Ilmu Politik

Oleh : Meisarah Marsa 

        Menurut Professor Morgenthau, ilmu politik merupakan gabungan antara teori dengan empiris, sehingga untuk memahaminya kita perlu melihat kepada sejarah dan fakta-fakta yang terjadi. Dalam realita sejarah, banyak orang yang mati terbunuh demi suatu pencapaian politik. Mereka menghabiskan materi demi tercapainya politik yang mereka inginkan, tanpa mempertimbangkan akibat yang akan terjadi pada kehidupan mereka selanjutnya seperti halnya pasca perang dunia I dan II yang telah merugikan banyak manusia, memakan banyak korban jiwa, serta terjadinya krisis ekonomi di berbagai negara. 
       Morgenthau juga berpendapat bahwa manusia cenderung berkeinginan untuk memiliki kebebasan mengendalikan dunia social, yang tidak akan ada jika ia tidak menciptakannya. Inilah  kekuasaan. Dalam realita politik, tidak dipungkiri bahwa untuk mendapatkan kekuasaan terkadang menimbulkan konflik yang diselesaikan dengan kekerasan seperti perang, revolusi, dan monopoli pemerintahan yang berujung pada hokum alam (siapa yang memiliki kapasitas materi terbanyaklah atau yang unggul dalam peperanganlah yang menjadi penguasa). 
       Berbicara tentang kekuasaan, Hans J Morgenthau memandang bahwa politik internasional, seperti halnya semua politik, adalah perjuangan demi kekuasaan, apa pun tujuan akhir dari politik internasional, tujuan menengahnya adalah kekuasaan. orang lain mungkin mendefenisikan tujuan-tujuannya itu dalam pengertian tujuan yang lebih relijius, filosofis, ekonomis atau sosial, tapi mereka melakukannya dengan berupaya memperoleh kekuasaan yang nyatanya tidak pernah lepas dari ambisi dan keinginan untuk berkuasa penuh baik mengambil untung perekonomiannya maupun menginginkan kesetiaan masyarakat yang terpaksa tunduk pada negara karna takut ditindas. 
       Seperti yang terjadi di Indonesia pada masa Soeharto, nazisme Jerman oleh Hitler dengan kediktatorannya, Mao Tse Tung dengan system komunisnya dll. Jika pemahaman politik seperti ini terus berlanjut, maka untuk kedepannya yang menjadi penguasa dan pemimpin hanyalah mereka yang memiliki kekuasaan dan materi terbanyak. Ini akan menimbulkan persaingan dan konflik bagi mereka yang merasa ditindas yang juga menginginkan kenyamanan hidup yang layak atau bahkan juga berkeinginan untuk mengambil alih kekuasaan demi kepentingan individu. Morgenthau mengatakan bahwa,”A political science that is mistreated and persecuted is likely to have earned that enmity because it has put its moral commitment to the truth above social convenience and ambition”. Memang benar bahwa ilmu politik yang kejam dapat menimbulkan kebencian dan banyak musuh seperti halnya seorang raja yang memerintah dengan ambisi atau keinginan menguasai secara penuh (otoriter), maka masyarakat yang merasa tertindas akan benci terhadap kebijakan raja tersebut dan berbalik arah, dari taat kepada raja menjadi musuh raja.
       Sehingga, hal ini akan berdampak pada kesenjangan social dan mungkin akan membawa kerusakan serius. Dampak yang sangat jelas kita rasakan saat ini adalah beberapa negara telah mempersiapkan senjata nuklir dan pertahanan militer masing-masing dengan iming-iming pertahanan negara. Dan belum ada kepastian kapan senjata ini akan diluncurkan. Jika hal ini terjadi, maka akan ada kerusakan yang lebih parah dari peperangan sebelumnya. Morgenthau mengatakan bahwa suatu ilmu politik akan tetap bertahan bila kepentingan dan kebijakan ilmu politik itu sendiri tidak bertentangan terhadap nilai-nilai masyarakat tetapi, konflik tidak bisa dihindari karena kepentingan politik tidak selalu sesuai dengan nilai-nilai masyarakat.
       Jika telah tejadi konflik atau peperangan hebat yang menimbulkan dampak yang luar biasa, maka butuh usaha dari nol untuk dapat membangun kembali dari kerusakan yang terjadi. Memang secara realistis, ilmu politik tidak pernah lepas dari konflik, namun menurut saya hal itu bisa diminimalisir. Untuk menghindari terjadinya hal ini, pada era kontemporer dijalinlah suatu hubungan internasional agar meminimalisir kesenjangan social yang menjadi salah satu factor terjadinya konflik. Dengan melakukan berbagai kerjasama baik dalam bidang politik, pendidikan. maupun ekonomi. Untuk itu, para ilmuwan politik dan masyarakat majemuk seperti halnya Amerika maupun negara lainnya harus dapat menghargai masyarakat dengan berbagai macam karakter baik agama, politik, social, budaya, dan ekonomi. 
       Sebagai kesimpulan, saya kurang setuju dengan pendapat Morgenthau tentang tujuan politik yang berarti kekuasaan. Secara realita kekuasaan lebih identik dengan ambisi. Dalam pandangan saya, tujuan politik tidak sepenuhnya merupakan kekuasaan saja, melainkan untuk membantu kinerja negara dalam mewujudkan perdamaian, ketentraman dan keadilan.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments